TITIKFOKUS.ID — Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, menjadi “normal” ternyata bukan perkara sederhana.
Kita hidup di zaman ketika kesibukan dianggap sebagai prestasi, bekerja tanpa henti dianggap sebagai bentuk perjuangan, dan memiliki kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial seolah menjadi sebuah keharusan.
Orang berlomba menunjukkan pencapaian. Ada yang mengejar jabatan, uang, popularitas, jumlah pengikut, hingga pengakuan dari orang lain. Tanpa sadar, banyak orang akhirnya menjalani hidup bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut dianggap tertinggal.
Padahal, tidak semua orang harus berlari.
Ada kalanya seseorang hanya ingin hidup tenang, bekerja secukupnya, berkumpul bersama keluarga, menikmati secangkir kopi, membaca buku, beribadah, atau tidur dengan perasaan damai.
Di tengah budaya yang sering mengagungkan kesibukan, memilih istirahat bukan berarti malas.
Menolak mengikuti semua tren bukan berarti ketinggalan zaman.
Tidak memamerkan kehidupan di media sosial bukan berarti tidak memiliki pencapaian.
Dan memilih hidup sederhana bukan berarti gagal.
Ketika yang Tidak Wajar Justru Dianggap Biasa
Ironisnya, beberapa hal yang sebenarnya tidak sehat justru mulai dianggap normal.
Kurang tidur demi pekerjaan dianggap biasa. Terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dianggap biasa. Menghabiskan uang demi terlihat sukses dianggap biasa. Bahkan merasa lelah secara mental tetapi tetap memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja juga sering dianggap biasa.
Kita kemudian bertanya, sebenarnya yang disebut “normal” itu apa?
Mungkin normal bukan berarti mengikuti apa yang dilakukan semua orang.
Normal bisa berarti mampu mengenali batas diri.
Mampu mengatakan “tidak”.
Mampu menerima bahwa hidup kita tidak harus sama dengan kehidupan orang lain.
Dan yang paling penting, mampu tetap menjadi manusia ketika dunia terus mendorong kita untuk menjadi sesuatu yang lebih cepat, lebih kaya, lebih terkenal dan lebih sempurna.
Tidak Harus Menang Setiap Hari
Kehidupan bukan perlombaan yang setiap harinya harus dimenangkan.
Ada hari ketika kita produktif. Ada hari ketika kita hanya mampu bertahan.
Keduanya tetap bagian dari kehidupan.
Tidak semua kegagalan harus segera diperbaiki. Tidak semua kesedihan harus segera disembunyikan. Tidak semua perjalanan harus dipamerkan.
Kadang-kadang, menjadi dewasa hanyalah tentang belajar menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin salah satu bentuk keberanian terbesar adalah tetap waras.
Tetap punya prinsip.
Tetap peduli.
Tetap mampu membedakan mana yang benar-benar kita butuhkan dan mana yang hanya kita inginkan karena melihat orang lain memilikinya.
Sebab pada akhirnya, menjadi normal di kehidupan yang serba gila bukan berarti menjadi sama dengan dunia.
Melainkan tetap menjadi diri sendiri ketika dunia terus berusaha menentukan siapa kita seharusnya.

Komentar